Tren Quiet Luxury, Gaya Mewah yang Tersembunyi

Pernah dengar quiet luxury? Simak tren fashion ‘old money’ yang lebih mentingin kualitas daripada logo besar. Mewah tapi tetap kalem!

Pernah nggak sih kamu lagi nongkrong di minimarket daerah Bandung, terus lihat cowok penampilannya biasa banget, cuma pakai kaos polos sama celana denim, tapi turunnya dari ojek online? Sekilas emang nggak ada yang mencolok, tapi pas dia antri di kasir, eh ternyata di pergelangan tangannya melingkar Rolex Sea-Dweller.

Buat yang belum tahu, jam tangan itu aslinya buat penyelam laut dalam dan harganya setara sama satu unit mobil MPV keluaran terbaru dari Jepang. Inilah yang dinamakan fenomenaquiet luxury, sebuah gaya hidup di mana orang-orang tajir nggak lagi butuh validasi lewat logo-logo besar yang berisik. Penasaran kenapa gaya mewah tapi sunyi ini bisa jadi tren global yang sangat masif belakangan ini? Yuk, kita bahas poin-poinnya biar kamu makin paham!

1. Meredupnya Era Logomania yang Mencolok

Dulu, sekitar tahun 2010 sampai 2020, industri busana bener-bener dikuasai sama orang-orang yang bangga banget pamer logo merek kenamaan, seperti Supreme atau Gucci. Pakai barang yang kelihatan simpel tapi ada logonya yang gede banget itu jadi cara paling gampang buat pamer status sosial di tengah pergaulan.

Tapi sekarang, tren itu pelan-pelan mulai basi karena orang kaya beneran justru merasa lebih nyaman pakai gaya yang kalem dan nggak mencolok sama sekali. Pergeseran ini menunjukkan kalau saat ini, kesan elegan lebih dicari daripada sekadar pamer merek yang harganya selangit tapi desainnya terlalu ramai.

2. Efek Serial Succession dan Estetika Old Money

Banyak orang percaya kalau tren quiet luxury ini meledak gara-gara serial HBO yang judulnya Succession mulai ditonton banyak orang di seluruh dunia. Serial itu nyeritain keluarga miliarder yang penampilannya super mahal tapi kelihatan sangat biasa saja di mata orang awam karena nggak ada satupun logo mewah yang nempel.

Dari sinilah istilahstealth wealth atau old money aestheticjadi viral banget karena banyak orang pengen tampil berkelas tanpa harus kelihatan “OKB” atau orang kaya baru. Gaya ini menekankan bahwa kekayaan sejati itu seharusnya dinikmati sendiri, bukan buat jadi bahan pameran yang norak di depan publik.

3. Keseganan Pamer Pasca Pandemi COVID-19

Salah satu alasan kuat kenapa quiet luxury makin digemari adalah karena adanya rasa segan buat pamer kekayaan di era krisis pasca pandemi. Orang-orang jadi makin sensitif sama kesenjangan ekonomi yang ada, jadi pamer kemewahan yang vulgar itu dianggap nggak etis dan nggak peka sama keadaan sekitar.

Alhasil, mereka yang punya ekonomi kelas atas mencari cara lain buat nunjukin status tanpa harus bikin orang lain merasa terintimidasi atau sakit hati. Menampilkan kesederhanaan yang punya kualitas luar biasa justru dianggap lebih mewah dan berkelas daripada tampil heboh tapi tanpa makna.

4. Simbol “IYKYK” dan Kualitas yang Bicara

Di media sosial, gaya ini sering dibilang If You Know, You Knowalias IYKYK, yang artinya cuma orang setara yang bakal paham kalau barang kamu itu mahal. Penganut gaya ini nggak pilih barang karena logonya, tapi lebih ke kualitas bahan yang super premium, detail jahitan yang rapi, sampai potongan baju yang unik.

Merek-merek seperti Loro Piana, The Row, atau Brunello Cucinelli jadi idola karena mereka fokus ke kenyamanan dan keaslian daripada cuma pamer simbol status yang gampang ditiru. Dengan membeli sedikit barang tapi tahan lama dan bernilai tinggi, mereka benar-benar menerapkan prinsip kualitas diatas kuantitas yang bikin penampilan makin abadi.

5. Gebrakan Desainer Lokal di Indonesia

Nggak mau kalah sama tren global, desainer lokal di Indonesia juga mulai merespons tren quiet luxury ini dengan cara yang sangat kreatif dan membanggakan. Banyak jenama atau merek lokal yang mulai berani pakai kain premium khas Nusantara, seperti tenun atau songket, buat bikin desain yang minimalis tapi tetap terasa mewahnya.

Merek lokal kayak Masshiro & Co. atau Argyle & Oxford sekarang mulai populer di kalangan profesional karena mengusung filosofi minimalis dengan bahan yang bener-bener berkualitas tinggi. Ini bukti kalau tren mewah tapi tenang ini bukan cuma soal gaya luar negeri, tapi juga soal apresiasi terhadap keahlian lokal yang luar biasa.

6. Paradoks dan Kritik Jurang Sosial

Meskipun kelihatannya kalem, sebenarnya quiet luxury itu adalah sebuah paradoks karena dia tetap berteriak tentang status tapi lewat cara yang lebih halus. Banyak yang ngritik kalau tren ini malah memperdalam jurang sosial karena kaos polos yang kelihatan sama bisa punya harga yang jauh banget bedanya di pasaran.

Seakan-akan, cuma segelintir orang elite aja yang boleh dan bisa baca sandi sosial tersembunyi lewat pakaian yang mereka kenakan sehari-hari. Kritik ini muncul karena meskipun kelihatan sederhana, akses buat dapet kualitas sehebat itu sebenernya tetep aja cuma milik mereka yang punya kantong sangat tebal.

Pada akhirnya, quiet luxury itu bukan cuma soal baju apa yang kamu pakai, tapi soal pola pikir kalau keindahan sejati itu nggak butuh pengakuan yang berisik. Seperti pepatah lama bilang, kelas itu adalah ketika kamu punya segalanya untuk dipamerkan, tapi kamu memilih untuk tetap tenang dan biasa saja.

Di dunia yang makin penuh sama budaya flexing di media sosial, memilih buat tampil kalem tapi berkualitas adalah bentuk kedewasaan finansial dan emosional yang murni. Jadi, kamu lebih pilih jadi orang yang berteriak mewah atau orang yang diam-diam menghanyutkan dengan gaya mewah yang tersembunyi ini?